Duh Data Jumlah Penduduk… kenapa nggak sama?

Mungkin sudah menjadi hal yang klasik, bahwa data dari satu departemen dengan yang lain berbeda. Misalnya saja data yang resmi dikeluarkan oleh BPS tentang jumlah penduduk dengan data hasil Pendataan Keluarga dengan setting waktu setiap Juli-September yang annually dikeluarkan dari BKKBN hasilnya pasti berbeda.

Ada komentar teman yang bilang begini mengenai data :

” Kenapa sih kalo ditanya berapa jumlah ibu hamil didaerahnya saja kok nggak tahu…. padahal dulu sewaktu saya bertugas di daerah tahu betul lho jumlah bumil diwilayah saya! ”

Trus saya jawab begini :

” Mau dibilang bodo atau tolol …. EGP, tapi saya cenderung menjawab ” Hanya Allah S.W.T dan malaikat-Nya saja yang tauberapa sebenarnya jumlah bumil itu. Saya sendiri yang ngurusi pengumpulan data gak tau kok bu, berapa persisnya jumlah bumil di Kabupaten ini pada tanggal – bulan – tahun -jam – detik ini. Lah ibu kan gak tau yang “penduduk betulan” dan “penduduk duplikasi (karena punya KTP dobel)” itu berapa. Belum lagi kalo pas urbanisasi karena suami kerja diluar kota terus ikut, atau ruralisasi karena ibunya ada disini trus numpang melahirkan disini. Nah yang bisa saya katakan cuma pendekatannya saja yaitu : bahwa menurut buku ini halaman sekian bersumber dari survey X yang dilakukan oleh A maka jumlah ibu hamil pada tahun N adalah sejumlah S. ”

Ibu yang pede tadi diam sejenak, manggut-manggut lalu bilang : ” Iya juga ya bu…”¬† (sadar deh…)

Nah … kalau hasilnya cukup significant misalnya jumlah penduduk hasil BPS 600ribuan adapun menurut Pendataan Keluarga 700ribuan akan sangat merepotkan untuk menghitung capaian kinerja organisasi, distribusi paket kesehatan, perencanaan anggaran kesehatan, dan lain-lainnya. Untuk indikator negatif misalnya: persentase gizi buruk, angka kematian ibu dan bayi akan bagus capaiannya bila angka penyebutnya tinggi. Namun sebaliknya untuk indikator positif seperti : persalinan oleh tenaga kesehatan, desa dengan Universal Child Immunization (UCI) akan bagus capaiannya apabila angka penyebutnya rendah.

Sejatinya ini merupakan permasalahan yang bisa gampang atau susah pemecahannya, yaitu dengan “National Singgle Identity Number” , namun saya tidak mau suudzon kenapa tidak segera terealisasi. Sehingga diputuskan untuk data yang sifatnya community base digunakanlah Survey Cepat (Potret, cross sectional), sebagai pelengkap data Facility Base (dari laporan Rutin).

i’ah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: