2% dari 20% dari 100% yang berpengaruh

Ada Teori/Hukum ABC yang menyatakan bahwa : 80% pendapatan perusahaan ditentukan oleh 20% kegiatan perusahaan tersebut (betul nggak ya kutipannya). Nah menurut saya ini juga berlaku di kesehatan karena prinsip-prinsip eksternalitas. Ingat HIV-AIDS yang jumlah penderitanya di Indonesia diperkirakan 300ribuan dibanding jumlah penduduk Indonesia yang 240juta jiwa, memperkuat iceburg phenomenon tersebut. Akan halnya penyakit pandemi atau penyakit karantina, angkanya mungkin 0.000xx%  tetapi karena efeknya yang sangat besar pada suatu negara juga menjadi berpengaruh terhadap kebijakan kesehatan. Ini kami ungkapkan untuk juga merujuk pada kasus flu burung, yang sampai kapan ya…. berakhir karena terkait pembiayaan kesehatan juga.

Sebagai gambaran RAPBD tahun 2009 di Dinkes & KB Kabupaten Gunungkidul berjumlah 54,6 M dengan rincian : 29M untuk gaji ; sisanya ada sekitar 25.6M adalah untuk biaya berikut ini :

Bagian %
Umum 16,97
Fisik & alkes 51,46
Adminkes 0,71
ObatPerbekes 8,78
Farmasi 0,23
Jamkes+Yankes 6,27
Lab 0,25
KIA 1,39
Usila 0,1
Promkes 3,33
Gizi 2,94
PL 0,95
P2 2,23
KB 4,4

Jadi dana untuk program kesehatan masyarakat seperti Gizi, KIA, P2PL, Promkes, adalah 11.42%. Hal tersebut dengan catatan Biaya di Umum juga terdapat pelayanan kesehatan dasar di Puskesmas. Bagaimana bisa anggaran yang hanya11.42% lalu sim… salabim mengatasi keseluruhan permasalahan kesehatan di Kabupaten ini?

Eits…..tunggu dulu, berpikirkan setengah isi jangan setengah kosong. Be Possitive. Kita bisa juga lho bermitra dengan anggaran lain selain dari pemerintah. Dari swasta dan masyarakat misalnya. Karena masyarakat Gunungkidul itu budaya gotong royongnya masih tinggi sekali.

Ada cerita begini (ini kasus aja lho, tapi betul-betul terjadi) :

Seorang tetangga teman saya sakit dan dirawat dirumah sakit. Nah karena dirawatnya di RS Kabupaten maka they feel so comfort coz feel at home (betah). Selain mandi gratis, juga menjemur pakaian di taman (lumayan ngirit air). Sore hari keluarganya banyak yang menjenguk. Malah sempat “wedangan” (menyeduh air) sambil santai-santai di depan kamar yang dijenguk. Tak lupa sambil pamitan ada dong amplop yang disampaikan kepada keluarga pasien tersebut. Nah karena keluarga tergolong kurang mampu dan mengurus surat-suratnya, maka bisa “mendapat dana” untuk mengganti biaya berobat dirumah sakit tersebut. Namun lagi-lagi karena rasa sosial setetah sembuh oleh pasien tersebut uang dipergunakan untuk acara syukuran. Sah-sah saja sih.

Nah temen saya dari rumah sakit nambahi begini : “Itu mending lho mbak, kadang mereka itu bawa keluarganya sampai bis-bisan kalau jenguk keluarga kok dirawatnya di kota. Lagian kalo di rumah sakit kota itu mau manut dibilangin untuk tidak menginjak rumput, menjemur pakaian, wedangan diselasar, dan lainnya. Tapi kok disini nggak ya? Jadi gimana lingkungan RS bisa terjaga tetap asri kalau usaha hanya dari RS tak dibarengi oleh masyarakat penjenguk? ”

Saya teringat bukunya Pak Driantama yang asli Gunungkidul (saya lupa judulnya) budaya nyumbang tersebut memang eksis di masyarakat walau sekarang mulai terkikis oleh jaman yang terus berubah. Mbak yang membantu di kos -kosan juga bilang walau mepet, tetap saja setiap bulan ramai nyumbang HARUS menyisihkan sekitar 500rb-1juta untuk “UMUM” saja.

Nah padahal untuk imbang tuh neraca keuangan rumusnya kan kalau tidak :

– memperbesar pendapatan dari-sumber yang sudah ada dan atau menambah sumber-sumber pendapatan baru ; atau

– memangkas pengeluaran/belanja

Nah yang ideal yang dilakukan keduanya. Easy to say but difficult to practice. But there’s a will there’s a way and also there’s a BILL (dimana ada kemauan disitu ada jalan dan jangan lupa juga ada tagihan lho !!). Let us together overcome those problem !!

i’ah

6 Tanggapan to “2% dari 20% dari 100% yang berpengaruh”

  1. Taviv Says:

    Ternyata OK banget tulisan mb I’ah ini, bisa ngungkap sisi-sisi unik pada masyarakat kita.

  2. Hadisumarto Sugiharto Says:

    Yg namanya budaya emang susah mengikisnya, meskipun sebenarnya budaya itu ada sisi negatifnya. Seperti “nyumbang” tadi itu, walau gak ada uang pasti diusahakan dgn sgala cara untuk menutup malu dengan orang lain atau lingkungannya. Ada bakat jadi sosiolog ni…..

  3. Fahrisal Akbar Says:

    He….seru ne ceritanya….

  4. agung Says:

    heeeheeeheeheeeheeeheeeheeeheee…………..

  5. agung Says:

    mbak nek kirim materi ato apa aj kemana?

  6. indrabekti Says:

    bagus infonya!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: